Salam Olahraga
Alhamdulillah, di tengah-tengah kesibukan sebagai abdi negara, ane masih sempet ngotak-atik patch game kesayangan ane ini gan, Winning Eleven 9 a.k.a WE9 atau PES 5 versi PES 2015 atau juga FIFA 2015.
Sebenernya ane agak jarang main game ini gan, lebih suka main PES 2015 atau FIFA 2015, tapi karena versi terbaru game WE9 udah gak keluar tiap tahun kaya game PES dan FIFA, ane sempetin deh ngedit patch game legendaris ini,
Ane udah sebisa mungkin bikin se-update-updatenya gan, kalopun masih ada kekurangan mohon dimaklumi ya, soalnya sekarang ane udah gak kaya taun sebelumnya, ane udah krja jadi pns gan , hehe...
Oke langsung aja gan, ini ane kasih updatean Winning Eleven 9 terbaru
buat musim 2014/2015.
1. Download patch update WE 9 di sini (via mediafire) atau bisa juga
di sini (via 4shared)
2.
File yang udah di download, di-copy (atau di-cut terserah, tapi lebih
aman di-copy aja) terus buka My computer-->/C-->Program
File-->trus cari folder Konami-->WE 9-->Save-->Folder1 (nah,
terus paste deh di situ). Jangan lupa, patch yang sebelumnya dihapus
dulu. Kalo ga, biasanya pas di-paste akan ada peringatan apakah mau
meremove existing file, klik yes aja.
3. Buat yang main
pake WE 9 versi RIP (ane juga pake yang ini, lebih enteng di netbook)
lakukan hal serupa dengan langkah ke-2, cuman biasanya folder yang
dicari ada di My Document-->Konami-->Save-->Folder1.
4.
Oh ya, buat yang main pakai PES 5, tenang aja, patch updetan ini juga
bisa dipake kok, cukup ganti nama file yang udah di-download
(KONAMI-WIN32WE9UOPT) ganti dengan nama KONAMI-WIN32PES5UOPT, terus
lakukan seperti langkah pada nomor 2.
nih ane kasih beberapa screenshot gan
Jangan Lupa Ninggalin Komen gan, semoga bermanfaat, maaf kalo ada kekurangan dan kurang berkenan, soalnya bursa transfer berikut ane ga janji bisa upload patch lagi, agak capek gan, ane prefer main pes atau fifa aja deh yang tinggal install, hehe....
Salam Olahraga
Minggu, 07 September 2014
Minggu, 09 Maret 2014
Saya Tak Membaur Bukan Karena Saya Angkuh
KPP Pratama Kebumen, tak
terasa hampir enam bulan kantor ini
menjadi “sekolah” saya yang baru. Sekolah yang mengajarkan betapa beragamnya
sifat orang di luar sana, betapa begitu banyak orang hebat dan orang baik di sekitar
kita, namun memberi alarm peringatan bahwa di mana ada orang yang baik, pasti
ada orang yang “tidak terlalu baik”, atau “belum menjadi baik”. Tempat ini
mengingatkan bahwa dunia kerja akan tetap dan akan selalu seperti lautan yang
sangat sukar diprediksi.
Hari pertama saya masuk “kerja”,
salah seorang pegawai senior membeberkan beberapa pengalamannya selama menjadi abdi negara. Satu poin penting
yang saya tangkap dari hasil pembicaraan kami adalah, sebagai pegawai “rendahan”
yang akan selalu dimutasi dari satu titik ke titik yang lain, saya harus punya
tabungan. Belau bercerita suatu masa ditempatkan di Papua, dan baru beberapa
hari di sana langsung disuruh diklat di Jakarta. Memang ongkos dan biaya
akomodasi akan ditanggung pemerintah nantinya, tapi kata “nanti” tidak pernah
bisa ditebak kapan terjadi. Simpulannya adalah, untuk beberapa waktu, semua
ongkos harus ditanggung sendiri, dan kondisi terburuk adalah, kalau saya tidak punya ongkos, lantas
dengan apa saya membayar biaya yang tidak bisa dibilang sedikit ini?
Sebagian dari anda
mungkin menjawab, “gampang, tinggal minta orang tua”., atau “pinjam dulu sama
saudara, nanti kan dikembalikan”. Kedua opsi tersebut memang benar, tapi keduanya
tak berlaku bagi saya. Meminta uang pada orang tua sama saja dengan menambah
berat beban orang tua yang selama ini sudah begitu berat. Meminta kepada
saudara? Saudara yang mana? kalaupun ada, mereka bisa member I satu dengan
syarat saya bisa mengembalikan dua.
Menabung, adalah
satu-satunya opsi yang tersedia bagi saya. Uang tunggu setiap bulan memang tak
seberapa jumlahnya, bahkan saat saya masih kuliah saya bisa mendapat jauh lebih
besar dari hasil mengajar privat. Tapi sekecil
apapun jumlahnya, kalau setiap bulan saya rajin menyisihkan beberapa bagian
darinya, saya yakin akan sangat membantu dan bermanfaat jika suatu saat
dibutuhkan biaya akomodasi untuk diklat dan segala macamnya.
Membawa bekal makanan
dari rumah setiap hari? Tak pernah mau kalau diajak karaoke? Tak pernah mau
diajak makan siang bareng teman-teman? Kalau saya mau jujur, uang tunggu yang “hanya”
850 ribu itu hanya saya ambiil 300 ribu
setiap bulannya. 150 ribu untuk pegangan saya, dan sisanya saya berikan pada
ibu saya. Yang 550 ribu? Saya biarkan mengendap menjadi investasi saya di
kemudian hari. Biarlah orang menyebut saya kampungan, kuper, jadul, angkuh, atau
bahkan pelit, yang jelas saya tak mengambil milik orang lain, dan saya mencoba
tak menyusahkan siapapun. Satu-satunya yang cukup kerepotan mungkin ibu saya,
yang harus menyiapkan sarapan dan bekal setiap pagi. Baiklah, memang benar,
tapi akan jauh lebih memberatkan beliau kalau saya tak memiliki tabungan, dan
merengek meminta uang untuk ongkos jalan suatu saat nanti. Hidup keluarga kami
sudah begitu berat dan kekurangan, kalau saya tidak mau prihatin, pantas lah
anda sebut saya anak durhaka.
Saya tak seperti anda
yang semua uang tunggunya menjadi milik anda, bebas anda gunakan, bebas anda
belanjakan. Maaf jika saya sering menolak ajakan kalian kawan, bukan karena
saya tak mau diajak bersenang-senang, tapi saya sedang mencoba bertahan.
Tolong jangan sebut saya
angkuh, saya hanya sedang berusaha meraih mimpi saya, dan mewujudkan harapan kedua orang tua saya.
Jumat, 27 Desember 2013
Radio, Riwayatmu Kini
(radio di rumah saya)
Radio, siapa yang mengira
bahwa salah satu alat komunikasi ini akan segera memasuki akhir “masa
berlakunya”. Hal yang tentu tak pernah ada dalam benak Guglielmo Marconi saat
beliau menemukan radio pada 1895. Betapa
tidak, di tengah pesatnya perkembangan teknologi,informasi dan internet,
semakin jarang orang menyentuh alat dengan output audio ini. Munculnya telefon
genggam multi fungsi yang disusul dengan pesatnya perkembangan teknologi
handphone pintar, bisa jadi merupakan suspect utama yang jadi “biang”
kehancuran radio. Orang tak perlu lagi
menyalakkan radio dan menunggu seharian untuk mendengar lagu kesukaannya
diperdengarkan. Orang tak mau lagi mendengarkan cuap-cuap penyiar radio karena
tak nampak wajah tampan dan paras ayu dari sang penyiar. Orang tak perlu menunggu
sampai jam 7 pagi dan jam 9 malam hanya untuk sekedar mendengar warta berita
dan informasi terbaru. Semua cukup
dilakukan dengan kotak kecil berlayar bernama handphone, cukup lakukan beberapa
kali pencet tombol, dan kau sudah dapattkan semuanya. Musik yang kau
gandrungi, lengkap dengan video sang artis dan bisa disambi dengan membaca
berita terhangat di situs tertentu. Tak perlu kau bersusah payah menyalakan
radio, mencari frekuensi yang pas, dan menunggu lagu mu diputar.
("hati" dari sebuah pesawat radio dua band)
Ketiadaan pesawat televisi
di rumah saya membuat saya menghabiskan
sebagian besar masa kecil saya dengan mendengarkan kotak kecil bersuara yang membuat saya sangat terkagum saat pertama melihatnya. Sesuatu yang tetap bertahan hingga sekarang, dan tetap saja radio begitu istimewa di mata saya. Suara karismatik khas para penyiar radio,
dengan selingan beberapa lagu yang sedang “moncer” di kala itu, dan beberapa iklan
di radio yang dibuat “seadanya” namun
tetap mengena. Sungguh masa indah yang sangat berharga untuk saya simpan
sendiri. Atau mungkin anda bisa
mengingat bagaimana seru dan mencekamnya sandiwara radio yang sempat sangat
hits di medio 90an. Walau saya belum terlalu “ngeh” dengan alur cerita
sandiwara radio kala itu, tapi melihat ayah dan saudara-saudara saya sangat
antusias menyimak acara ini setiap hari, tentu acara tersebut memang sangat berjaya di
eranya. Setiap malam jumat ada acara Alam Lelembut dengan deretan cerita misteri dan pengalaman mistis yang dibacakan sang penyiar, sungguh
mencekam, bahkan saya selalu meminta ibu saya menemani saya tiap kali
mendengarkan acara ini. Dan apa lagi yang tak terlupa dari era keemasan radio
di masa kecil saya? Suara khas para pembawa radio RRI yang selalu diawali
dengan instrument lagu Rayuan Pulau Kelapa, dan selalu berakhir dengan
kata-kata “sekian siaran sentral dari Jakarta”. Saya yakin anak-anak jaman
sekarang yang telah begitu dimanjakan dengan teknologi canggih di semua lini
tak akan mengerti arti kebahagiaan saya di masa kecil dengan radio. Dan jika
anda mengalami masa indah bersama radio, berarti hidup anda luar biasa.

(radio 4 band, sesuatu yang ingin saya beli tapi belum kesampaian)
Beberapa waktu lalu saya
mencoba menghidupkan nostalgia saya dengan menyalakan radio di kantor untuk menemani
kesibukan bekerja. Tanpa saya duga, teman satu ruangan saya, atau bisa dibilang
teman satu bilik saya, ternyata menyukainya. Sungguh sesuatu yang tak saya duga
jika ternyata teman saya ini, sebut saja namanya S, juga suka mendengarkan
radio dan memiliki masa kecil yang bisa dibilang hampir sama dengan saya.
Sekilas dia sempat menyebutkan beberapa stasiun radio favorit yang pernah dan
seering dia dengarkan. Mulai saat masih mengudara di frekuensi AM, dan sekarang di FM. mulai dari Bima Sakti, Indrakila FM (sekarang In FM), Prima FM, GSP, Geronimo, dan banyak lagi. Sampai kami sampai ke pembicaraan yang sedikit serius
dengan membahas dari mana stasiun radio mendapat dana untuk beroperasi dan
bagaimana mereka menggaji para penyiar dan pegawainya. Mungkin perbincangan
kami akan sangat klise dan tak berbobot untuk saya tuangkan di sini karena kami bukan
orang yang cukup kompeten dalam hal ini. Tapi setidaknya pengalaman hari itu
memberi saya satu hal, saya bukan satu-satunya orang yang “tergila-gila” dengan
radio, ada orang lain bahkan dia ada di sekitar saya, dan tentu ada banyak
orang lain yang sama “alirannya” dengan saya di luar sana. Mengutip lirik lagu
dari John Lennon, “You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one. Tentu
saja saya bukan satu-satunya, tapi satu hal yang jelas, dengan perkembangan teknologi yang kian
deras, munculnya berbagai barang praktis dan multifungsi dengan teknologi yang
canggih, tentu amatlah sulit radio untuk bersaing karena hanya dibekali dengan “suara
saja”. Kita tidak tau nasib radio 5, 10, atau 20 tahun lagi, mungkinkah
eksistensi radio akan punah? Jadi, dengarkan radio selagi masih ada stasiun radio yang mengudara.
Baiklah, mungkin mulai
dari saat ini anda bisa mulai menghitung berapa banyak dari anda yang masih belajar di malam hari dengan
ditemani alunan suara penyiar radio? Berapa banyak dari anda yang masih setia
menunggu di depan radio menunggu lagu kesayangan diputar? Berapa banyak dari
anda yang saat pulang beraktifitas, beristirahat sambil makan malam dan
ditemani musik dari radio? Atau mungkin pertanyaan yang paling sederhana,
masihkah anda memiliki radio di rumah? Baiklah, anda tak perlu menjawab anda
punya radio di handphone anda, karena anda bahkan tak pernah memakai fitur ini
di handphone anda. Jadi, mungkin benar jika radio akan segera “dipunahkan” oleh
makhluk sejenis dengan yang telah menemukannya lebih dari seratus tahun lalu. Atau kalau anda merasa
tersinggung, radio dipunahkan oleh “ciptaan” baru dari spesies yang sama dari
yang telah menemukannya. Saya terlalu lebay? Saya malah merasa terlalu
sederhana menyampaikannya. Radio, ini
bukan tentang teknologi, tapi tentang pilihan.
Sabtu, 02 November 2013
The Beauty Of Falling In Love
Kau tak bisa memilih akan
bertemu siapa saja hari ini dan di masa yang akan datang. Kau tak bisa memilih
akan jatuh cinta dengan siapa. Dan kau tak akan bisa menolak dan bersembunyi
saat cinta datang dan menyapamu. Sedangkan kau tak tahu apakah dia juga merasakan
hal yang sama denganmu atau perasaanmu hanya bertepuk sebelah tangan. Jangan
salahkan dirimu jika perasaan itu datang dan kau tak tahu harus bagaimana. Satu
hal yang pasti, kau akan merasa lebih baik jika melihat senyumnya hari ini, dan
kau tak akan merasakan beratnya hari ini selama kau ada di sekitarnya meski kau
tak tahu dia menganggapmu apa dan bagaimana. That’s the beauty of falling in
love.
Ada pameo lama yang
mengatakan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya. Namun saat hati anda
sedang dalam buaian cinta, segala sesuatu selalu indah saat itu juga. Saat kau
melihat senyum yang berkembang di pipinya. Saat kau melihat tatapan tajam dari
bola matanya. Saat kau mendengar sepatah kata dari mulutnya. kau merasa waktu
bersamanya tak ingin untuk cepat berlalu, hingga sampai pada titik di mana kau
ingin memiliknya. Namun, mungkin kau kecewa saat dia ternyata tak ingin kau
miliki, saat dia ternyata tak ingin melewati jembatan yang kau bangun antara
hatimu dan hatinya. Dan kau mungkin lebih hancur saat dia memilih membangun
jembatan untuk hati yang lain. Dalamnya lautan bisa diukur,tapi dlamnya hati
siapa yang tahu. Kau tak mungkin akan tahu bagaimana isi hatinya, apa yang dia
rasakan, dan apakah dia menginginkan lambaian cinta yang kau julurkan padanya.
Kecuali jika kau mengutarakannya. Kecuali jika kau membiarkan dia tahu isi
hatimu padanya. Kau mungkin akan kecewa jika isi hatinya ternyata tak seirama
denganmu, tapi kau mungkin juga akan sangat bahagia jika ternyata hatimu telah
memiliki ruang istimewa di hatinya. Beberapa orang memilih menjadi medioker
dengan memendam rapat apa yang dirasakan. Tak peduli pujaan hatinya merasakan
apa terhadapnya, selama senyum dan indah wajahnya masih bisa dilihatnya,itu
sudah lebih dari cukup. Harapan terbesarmu mungkin adalah kau bisa hidip
dengannya, tapi jika harapan terbesarnya adalah hidpu dengan orang lain, bukan
denganmu, kau harus rela.
Masalah jodoh adalah
misteri besar yang akan selalu dalam peradaban hidup seseorang. Saya pernah
merasakan betapa rumitnya jalan pikir seorang wanita. Dan masalah ini bahkan
jauh lebih rumit dari hal itu. Cinta dan jodoh adalah dua hal dekat namun
sebenarnya tak memiliki hubungan linear sama sekali. Ada semacam selat sempit yang memisahkan
keduanya tanpa ada jembatan penghubung
sama sekali kecuali kau ingin membangunnya. Garis tanganmu mungkin akan
membawamu untuk jatuh cinta pada seseorang dan kemudian menikahinya. Garis
tangan yang lain mungkin akan membuatmu harus menikah dengan seseorang yang
asing bagi hatimu, baru kemudian kau mencoba untuk membuatkannya ruang istimewa
di hatimu untuknya. Keduanya tak
memberimu jaminan untuk bahagia selamanya. Keduanya tak memberimu garansi akan
hubungan yang langgeng dan bertahan selamanya. Itu tergantung pada sekuat apa
jembatan yang kau bangun di antara hatimu dan hatinya. Jembatan di atas selat
antara bentangan cinta dan daratan jodoh yang ingin kau buat. Kau memang tak
bisa memilih akan jatuh cinta dengan siapa, tapi kau bisa memilih untuk
membangun jembatan untuk siapa.
Celah antara cinta dan
jodoh memang sempit, sangat sempit. Tapi kau tak tahu seberapa panjang dan luas
hamparan keduanya. Sampai pada suatu titik pertemuan mungkin saja kau ingin
menyeberang dengan jembata lain yang baru walau kau sudah punya satu jembatan
yang telah kau bangun dan telah kau jaga bertahun-tahun lamanya. Kalaupun bukan
kau yang membangunnya, mungkin ada orang lain yang mencoba membangun jembatan
itu untukmu. Pada suatu saat mungkin kau akan jenuh dengan caramu menyeberang
melalui jembatan lama, dan kau mungkin ingin mencoba melalui jembatan baru.
Jembatan baru yang kau bangun sendiri dengan titik penyeberangan berbeda, atau
jembatan baru dengan pangkal lain yang bukan kau yang membangunnya, tapi hati
lain yang kau tak bisa menolaknya. Yang tak bisa kau pilih siapa arsiteknya,
dan bagaimana bentuknya.
Lidahmu boleh saja
berkata kau cinta dengan seseorang. Namun saat hatimu juga mengatakan kalau dia
juga cinta dengan seseorang yang lain, kau mungkin akan gila. Ada titik di mana
kau mungkin jenuh dengan seseorang yang telah hidup bersamamu dan melewati
semua bersama. Ada saat di mana titik jenuh itu diiringi dengan kehadiran pihak ketiga yang menawarkan
hal lain yang berbeda walau dengan kemasan sama, cinta. Kau ingin menyambutnya,
tapi kau tak bisa meninggalkan si dia, penghuni lama yang telah membangun
jembatan sendiri di hatimu. Semua kembali ke hatimu, tapi harus kau ingat,
lebih baik meninggalkan seribu orang yang menarik di hatimu daripada
meninggalkan satu orang di mana kau menarik di hatinya. Hormon endorphin di
darahmu mungkin tak lagi memberikan rasa senang saat kau bersamanya, tapi kau
punya hati, setidaknya hati kecilmu yang harus kau jadikan penasihat pribadi.
Penasihat yang selalu membimbingmu kembali ke jembatan yang benar dalam
gelap,malam dan hujan badai. Melindungimu dari panas terik dan dinginnya
gelombang cinta yang menggelora, namun tak layak untuk kau berenang di
dalamnya.
Kau boleh jatuh cinta
dengan seseorang, namun mungkin kau tak harus menikah dengan seeorang yang kau cintai, melainkan dengan seseorang
yang kau pilih. Kau mungkin tak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa,
tapi kau bisa memilih seseorang yang akan mendapat kehormatan untuk menjadi
istimewa di hatimu. Jika kau memilih untuk hidup dengan seseorang yang kau
cinta, suatu saat mungkin cinta itu akan hilang. Namun jika kau memilih untuk
hidup dengan seseorang yang istimewa di hatimu,selamanya dia akan selalu
menjadi istimewa. Selamanya, yah selamanya.
Senin, 28 Oktober 2013
Keluarga Yang Saya Pilih (Catatan Kaki Pegawai Magang KPP Pratama Kebumen)
Waktu cepat berlalu jika
kau menikmati suasana. Saya selalu mencoba mengejawentahkan jargon tersebut
dalam hal apapun, walau terkadang terasa berat. Rasanya anda tak perlu mengungkit masa idah
kami para alumni STAN 2012 yang panjangnya tiga kali lebih lama dari masa idah
dalam definisi yang sebenarnya. Tentu saja, anda tak perlu mengingatkan kami
akan hal itu, karena kami sekarang telah resmi mengakhiri masa penantian kami
dengan dipersunting salah satu Ditjen paling bonafit di negeri ini, Direktorat
Jenderal Pajak.
Dan setelah melalui
sederet alur birokrasi yang cukup “menghibur”, akhirnya kami resmi dimagangkan.
Kami sempat diberi hak memilih tiga kandidat lokasi untuk dijadikan tempat magang,
kemudian entah apa dan bagaimana proses penentuan lokasi magang dari pusat,
saya mendapat lokasi magang di KPP Pratama Kebumen. Bagi saya ini tak banyak memberi
kejutan karena KPP ini memang yang saya jadikan pilihan pertama sebelum KPP
Purworejo dan Cilacap. Dan akhirnya, jalan takdir pula yang mempertemukan saya
dengan ke 14 rekan sesama peserta magang tepat di hari Kesaktian Pancasila
tahun ini. Sebagian dari mereka sudah tak asing bagi saya, bahan beberapa di
antaranya merupakan teman seperjuangan selama 3 tahun menempuh pendidikan di
kampus Ali Wardhana. Sebagian lagi memang masih asing bagi saya, tapi saya
tetap yakin mereka adalah rekan satu almamater yang tentu memiliki visi dan
misi serupa dengan saya.
Hari pertama masuk kerja
dan berada di lingkungan baru, memang terasa aneh. Ibarat gelombang radio, saya
mungkin perlu melakukan penyetelan frekuensi agar terjadi resonansi antara hati
saya dan mereka yang ada di sekitar saya. Namun, hal serupa tak perlu dilakukan
beberapa di antara kami. Sebagian dari kami yang baru dimagangkan, telah
terlebih dahulu melakukan magang mandiri di tempat ini sejak beberapa waktu
lalu.
Hari pertama kami lalui
dengan layaknya penduduk baru yang mesti berkeliling menyapa satu per satu penduduk lama sambil
mengenalkan diri. Saya pun tahu ini hanya tradisi saja, karena muskil bagi kami
dan mereka para penghuni lama untuk sekedar saling mengingat nama hanya dari
satu jabat tangan dan menyebut nama panggilan masing-masing. Waktu lah yang
mungkin akan membuat kami saling mengenal dan tahu satu sama lain. Namun, ada
kalanya kau tak perlu memikirkan untuk apa kau melakukan sesuatu, selama kau
tahu dampak dari yang kau buat tak akan berakhir buruk. Karena saya tahu ini
tradisi yang sudah menjadi norma yang umum, saya pun pasrah saja. Hasilnya? Mungkin
hanya satu atau dua orang saja yang saya ingat nama dan orangnya, sisanya “ambyar”.
Bahkan sesama pegawai magangpun, saya belum hafal satu per satu namanya kala
itu.
Selayaknya komponen baru
dari suatu sistem,kami pun tak banyak mendapat tugas kompleks di masa awal
kedatangan kami. Hanya beberapa tugas klerikal yang mereka percayakan untuk
kami tangani. Bahkan beberapa di antara kami tak tahu apa yang mesti dikerjakan
dan mesti berbuat apa. Saat situasi yang umum terjadi ini benar-benar terjadi, bergerombol
untuk sekedar menutupi kalau kami tak ada kerjaan pun jadi pilihan nomor wahid.
Lain cerita dengan mereka yang telah terlebih dahulu “mencuri” start magang di
tempat ini, orang wam tak akan tahu kalau mereka masih berstatus magang karena
sibuknya mereka bekerja. Mereka seperti sudah menyatu dengan sistem yang ada,
sebagaimana yang saya utarakan sebelumnya, mereka telah melakukan resonansi
hati dengan lingkungan ini.
Waktu ba’da shalat ashar
adalah waktu yang paling saya tunggu. Saya tak tahu bagaimana dengan mereka, tapi
waktu sore menjelang senja ini adalah momen paling menyenangkan dalam 9,5 jam
waktu kerja di kantor. Anda mungkin masih ingat masa kecil saat bermain dengan
teman seusia tanpa membedakan latar belakang dan gender? Yup, saya
mendapatkannya (lagi) di sini. Sejak masa-masa sekolah menengah sampai kuliah,
bermain olahraga bersama antara wanita dan laki-laki adalah hal yang mungkin
sangat jarang ditemui. Tapi di sini, kami tak peduli laki-laki atau wanita,
asal anda mau, anda bisa bermain voli bersama-sama. Belakangan, bola pimpong
juga masuk dalam olahraga yang kami mainkan bersama. Skill dan keahlian dalam
bermain, bukan menjadi hal yang penting di sini. Yang terpenting adalah kemauan
untuk berbaur, dan anda akan merasakan sensasinya. Tak perlu takut akan
ditertawakan karena tidak bisa atau melakukan keslahan,karena kalau diperhatikan, kami justru lebih banyak
tertawa daripada bermain dengan mestinya. Yah, seperti yang saya katakan, ,ini
lah sensasinya.
Tak terasa, hampir satu
bulan telah kami lalui bersama. Ini adalah hidup dan keluarga baru saya. Saya tak
perlu bertanya pada mereka menganggap
saya seperti apa. Tapi, bagi saya mereka adalah keluarga saya. Saya ingat salah
satu kutipan dari Novel Lupus. Dalam hidup ini, kita punya dua jenis keluarga,
yaitu keluarga karena takdir, dan keluarga yang kalian pilih. Keluarga karena
takdir, yaitu bapak, ibu,kakak,adik, dan saudara-saudara kalian. Sedangkan keluarga
yang kau pilih, adalah mereka yang kau anggap istimewa dan memiliki tempat
sendiri di hatimu. Dan bagi saya, kalian rekan-rekan magang, adalah keluarga
yang saya pilih dan kalian selalu istimewa di hati saya. Suatu saat kau mungkin
tak akan hidup dengan orang yang kau cintai, tapi dengan orang yang kau pilih.
Selasa, 03 September 2013
Update Patch Winning Eleven 9 (WE9)/PES5 2013/2014 Terbaru
Salam Olahraga
Buat sobat yang udah pada nunggu update patch terbaru game Winning Eleven 9 (WE9) 2013/2014, anda semua boleh bergembira. Pasalnya hari ini ane mau nge-share update terbaru patch game we9 versi 2014 yang ane update manually sampe detik-detik terakhir ditutupnya bursa transfer musim panas 2013/2014 pada 2 September kemarin.
Sobat We9-ners tentu udah ga sabar liat duet mematikan CR7-Gareth Bale atau mungkin duet Samba-Tanggo Neymar-Messi, atau reuni Kaka ke Milan dan emosionalnya Carlitos Tevez bermain buat Juve? Atau Aksi si Kribo Fellaini yang akhirnya berseragam Setan Merah? dan sakit hatinya si raja assist Real Madrid Mesut Ozil yang akhirnya berlabuh di Arsenal? jangan lupa juga tim kaya raya pendatang baru AS Monaco yang sedang membangun kekuatan baru di sepakbola Eropa. let's check this out brother!
Oke langsung aja gan, ini ane kasih updatean Winning Eleven 9 terbaru buat musim 2013/2014. Insya Allah ini yang paling update gan, soalnya hampir tiap hari ane pantengin Goal.com sama transfermarkt.co.uk. Buat yang belum tau cara pakainya, ikuti aja langkahnya
1. Download patch update WE 9 di sini (via mediafire) atau di sini (via 4shared)
2. File yang udah di download, di-copy (atau di-cut terserah, tapi lebih aman di-copy aja) terus buka My computer-->/C-->Program File-->trus cari folder Konami-->WE 9-->Save-->Folder1 (nah, terus paste deh di situ). Jangan lupa, patch yang sebelumnya dihapus dulu. Kalo ga, biasanya pas di-paste akan ada peringatan apakah mau meremove existing file, klik yes aja.
3. Buat yang main pake WE 9 versi RIP (ane juga pake yang ini, lebih enteng di netbook) lakukan hal serupa dengan langkah ke-2, cuman biasanya folder yang dicari ada di My Document-->Konami-->Save-->Folder1.
4. Oh ya, buat yang main pakai PES 5, tenang aja, patch updetan ini juga bisa dipake kok, cukup ganti nama file yang udah di-download (KONAMI-WIN32WE9UOPT) ganti dengan nama KONAMI-WIN32PES5UOPT, terus lakukan seperti langkah pada nomor 2.
Ok gan, selamat bermain, semoga bermanfaat. Sesama pecinta bola dilarang saling mencaci apalagi menyinggung unsur sara, jika anda mencinrai sepakbola, berarti anda membenci anarki.
Budayakan ninggalin komen dan kasih jempolnya ya gan...astala vista...
jangan lupa ninggalin komen ya gan...
Senin, 06 Mei 2013
Kasino Warkop DKI: Legenda Dunia lawak Indonesia, Gile Loe Ndro...
Warkop DKI atau sebelumnya bernama Warkop Prambors,
merupakan salah satu bagian tak terpisahkan dalam sejarah perjalanan dunia
lawak di Indonesia, bahkan dunia lawak Internasional. Saya yakin anda yang lahir sebelum tahun
2000-an, pasti tahu grup lawak yang memulai karier sebagai penyiar radio ini.
Kalaupun anda tidak tahu, itu berarti anda baru saja datang dari planet lain
yang letaknya jauh dari bumi, hehe. Grup yang memulai karier dari penyiar radio
Prambors pada tahun 70-an ini, menjelma menjadi legenda dunia lawak nasional
yang sangat melekat di hati pemirsanya. Warkop DKI hadir dengan lawakan dan
banyolan segar, menghibur, dan intelek, tanpa menyerempet unsur SARA . Grup ini
awalnya terdiri dari lima orang, yakni Rudi Badil, Nanu, Dono, Kasino, dan
Indro. Setelah sempat melejit dengan nama Warkop Prambors, grup ini merubah
nama menjadi Warkop DKI setelah wafatnya Nanu dan mundurnya Rudi badil. Embel-embel
DKI yang merupakan plesetan dari daerah khusus ibukota, sebenarnya merupakan
singkatan dari tiga personel tersisa, yakni Dono, Kasino, dan Indro.
Salah satu personil sekaligus pendiri Warkop DKI yang
menurut saya perannya sangat menonjol, adalah Om Kasino. Tanpa mengecilkan
peran para personil lain, untuk postingan kali ini saya mau menulis khusus
tentang Almarhum Om Kasino. Om Kasino mempunyai nama lengkap Kasino Hadiwibowo,
beliau lahir di Gombong, Kebumen 15 September 1950. Seperti para personil
Warkop lainnya (kecuali Indro, di Universitas pancasila), Om Kasino menempuh
pendidikan di Universitas Indonesia di Fakultas
Ilmu Sosial, Jurusan Ilmu Administrasi Niaga, dan memperoleh gelar Drs. Salah
satu yang membuat Om Kasino terlihat lebih menonjol di antara para pelawak
nasional pada saat itu, adalah kemampuan seninya yang sangat komplit. Ibarat
pesepakbola, Om Kasino seperti Cristiano Ronaldo yang memiliki tendangan,
umpan, dan sundulan mematikan, baik kaki kanan maupun kiri.
Pelawak yang kerap disapa si seky (karena hidungnya pesek)
ini, selain memiliki kualitas lawakan kelas wahid, juga memilki sisi
musikalitas yang sangat tinggi. Banyolan lucu dan terkesan asal “njeplak” ini
yang membuat Kasino terkenal di seantero kampus sebagai tukang lawak kala itu. Hal
itu pula yang membawa Om Kasino masuk dunia siaran radio di mana Om Kasino
beserta para personel Warkop lain menciptakan acara obrolan santai dengan latar
warung kopi daerah pinggiran. Om Kasino kerap muncul dengan peran sebagai Mas
Bei (dengan logat jawa ngapak khas orang Kebumen), Sanwani (orang Betawi), Acing
(logat tiong hoa), Ketut (logat orang Bali), dan sebagai Buyung (orang Minang).
Acap kali dalam berbagai lawakannya baik di radio, saat stand up comedy, maupun
dalam film-film nya, beliau menyuguhkan lagu dengan musik dan lirik yang unik
dan menggelitik, dan lagu-lagu itu ditulis dan diciptakan sendiri oleh Om
Kasino dan para personel Warkop lainnya.
Satu lagi kemampuan Om Kasino yang tidak dimiliki para
pelawak lain kala itu adalah kemampuan multi bahasa yang dimiliki Om Kasino.
Selain Bahasa Indonesia, Om Kasino juga fasih dalam melantunkan berbagai
lawakan dalam bahasa inggris, belanda,india, tionghoa, dan tentu saja bahasa ibu Om kasino,
bahasa jawa ngapak khas daerah banyumasan. Hal ini juga pernah diakui sendiri
oleh satu-satunya personel Warkop DKI yang masih hidup, Om Indro, yang mengatakan
bahwa kemampuan multi bahasa Om Kasino
yang membuat para personel Warkop lainnya sangat mengagumi sosok yang meninggal
dunia karena kangker otak ini.
Berbeda dengan para pelawak jaman sekarang yang sering
melontarkan lawakan dengan meyinggung kekurangan fisik orang lain, lawakan Om
Kasino jauh lebih intelek dan berkelas. Selain lawakan yang mengkritik beberapa
kebijakan pemerintah kala itu, lawakan segar ala Om Kasino dan kawan-kawan acap
kali menggelitik kebiasaan salah kaprah warga masyarakat kala itu. Misal saja, ketika melamar kerja selalu ada syarat "diutamakan yang berpengalaman", lantas bagaimana junior seperti kami akan dapat pengalaman kalu tidak pernah diberi kesempatan, begitu cetusnya. Ada juga, istilah kesalahan teknis yang selalu jadi kambing hitam apabila ada sesuatu yang salah. Kenapa selalu teknis yang disalahkan, padahal kan teknis tidak tau apa-apa. Beberapa jargon dan lawakan beliau juga menjadi legenda dan populer bahkan
sampai saat ini. Anda tentu ingat dengan celetukan “jangkrik bos” yang muncul
di film CHIPS. Anda juga mesti tau ungkapan “emang gue pikirin”, “gundulmu”, “keong
racun”, “ora nana pendidikane blabar pisan”, “gila loe ndro”, dan masih banyak
lagi . Dan tentu anda pasti familiar dengan video nyanyian kode dan fakultas campuran yang sangat kocak dan beredar lusa di Youtube. Haha, ora nana pendidikane blabar pisan..
Satu lagi hal yang membuat saya kagum dengan kiprah Om Kasino, yakni kemampuannya mencampurkan manajemen administrasi dengan dunia lawak yang beliau tekuni. Om Kasino memang ditunjuk sebagai manajer keuangan dan administrasi dari grup lawak warkop, selain Om Dono yang mengurus masalah survey mengenai topic-topik yang hangat untuk diangkat dalam lawakan, Om Kasino lah yang berdiri di balik layar menentukan bahan mana yang layak diangkat, seperti apa ditampilkan, dan bagaimana biaya serta pelaksanaannya di lapangan. Hal ini pula yang membuat Om Kasino dan Warkop DKI sangat berbeda dengan grup lawak dan para comedian lain. Bahkan sampai saat ini belum saya temukan komedian sekomplit Om Kasino.
Satu lagi hal yang membuat saya kagum dengan kiprah Om Kasino, yakni kemampuannya mencampurkan manajemen administrasi dengan dunia lawak yang beliau tekuni. Om Kasino memang ditunjuk sebagai manajer keuangan dan administrasi dari grup lawak warkop, selain Om Dono yang mengurus masalah survey mengenai topic-topik yang hangat untuk diangkat dalam lawakan, Om Kasino lah yang berdiri di balik layar menentukan bahan mana yang layak diangkat, seperti apa ditampilkan, dan bagaimana biaya serta pelaksanaannya di lapangan. Hal ini pula yang membuat Om Kasino dan Warkop DKI sangat berbeda dengan grup lawak dan para comedian lain. Bahkan sampai saat ini belum saya temukan komedian sekomplit Om Kasino.
Memang saat ini ada beberapa komedian yang cukup kocak dan
bahkan sangat moncer di dunia perlawakan. Sebut saja Sule, Ajis Gagap, Olga,
dan sebagainya. Tapi mereka hanya sekedar melawak dan nyeplos sekenanya saja
sesuai alur cerita yang diatur. Bahkan untuk nama terakhir yang saya sebut,
sering kena cekal karena lontaran lawakan “basi” yang cenderung mendiskreditkan
kekurangan fisik orang lain. Ekspansi beberapa
pelawak ke dunia tarik suara seperti yang dilakukan Sule, menurut saya juga
hanya memenfaatkan “aji mumpung”, beda dengan Om Kasino yang menjadikan lagu
dan music sebagai bagian dari lawakannya yang terintegrasi satu sama lain.
Meski Om Kasino telah berpulang ke rahmatullah 16 Desember
1997 silam, beliau dan Warkop DKI nya tetap akan dikenang sebagai
legenda dunia lawak Indonesia. Meski saat ini hanya Om Indro satu-satunya
personil Warkop DKI yang tersisa, namun dengan tegas Om Indro mengatakan,
WARKOP DKI TIDAK PERNAH BUBAR dan
selamanya akan menghibur para penikmat dunia lawak Indonesia. Gila Loe Ndro……
Langganan:
Postingan (Atom)









